My Family

Kamis, 11 Desember 2008

Validasi Tes Intelligensi

VALIDASI TES INTELLIGENSI

Oleh:

Retno Mangestuti, M.Si & Rahmat Aziz, M.Si


Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas konkuren antara tes SPM (Standard Progressive Matrices) dan Intelligenz Structure Test (IST). Subjek penelitian berjumlah 37 mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Malang.

Hasil analisis dengan teknik product-moment menunjukkan bahwa nilai r sebesar 0,575 dengan nilai P sebesar 0,000 artinya kedua alat tes menunjukkan validitas konkuren yang tinggi. Selanjutnya dari kesembilan indikator pada tes IST ditemukan adanya empat indikator yang berkorelasi signifikan dengan tes SPM, keempat indikator tersebut adalah persamaan kata, melengkapi kalimat, deret angka, dan latihan balok.


Latar Belakang Masalah

Sejak dilakukan penelitian intensif tentang kecerdasan (intelligence) selalu memunculkan berbagai kontroversi pengukuran. Seperti juga pada barang lain, kontroversi ini tidak pernah berhenti, bahkan sampai sekarang. Kecerdasan merupakan potensi dasar seseorang untuk berpikir, menganalisis, dan mengelola tingkah lakunya di dalam lingkungan, dan potensi itu dapat diukur. Panjang seutas tali dapat diukur menggunakan meteran, berat sekantung gula juga dapat ditimbang. Demikian pula kecerdasan, dapat diukur dengan tes psikologi yang tentu saja tidak sesederhana mengukur panjang ataupun menimbang.

Kebiasaan ukur mengukur merupakan kegiatan yang khas dan biasa dilakukan dalam dunia psikologi, karena hal tersebut merupakan salah satu asessment awal dalam mengidentifikasi subjek, termasuk didalamnya adalah pengukuran tentang kecerdasan. Masalahnya muncul ketika alat tes yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi subjek yang dites sehingga memungkinkan terjadinya bias hasil pengukuran.

Masalah lain yang tidak kalah penting untuk dikaji adalah pemberian label tingkat kecerdasan pada subjek. Tes-tes yang biasa dilakukan para psikolog biasanya hanya menyimpulkan hasil tes IQ seseorang dengan skor tertentu tanpa menjelaskan alat tes apa yang digunakan, dan bagaimana tingkat validitas tes tersebut apakah sudah sesuai dengan kondisi subjek atau belum.

Diantara berbagai jenis tes kecerdasan yang sering digunakan adalah tes SPM dan IST. Secara teoritis kedua alat tes ini mengukur satu konstruk psikologis yang disebut dengan intelligence, walaupun ada perbedaan tentang pengertian dan prosedur pelaksanaan tes itu sendiri namun para pengguna tes biasanya tidak mempedulikan, mereka hanya tahu hasil akhir dari pengukurannya. Perbedaan lain yang dikaji pada penelitian ini adalah aspek yang diukur oleh kedua alat tes tersebut. Pada tes SPM aspek yang diukur terwujud dalam satu indikator tunggal, sedangkan pada tes IST aspek yang dikur terdiri dari sembilan indikator sehingga skor kecerdasan yang merupakan gambaran akhir tentang tingkat kecerdasan seseorang merupakan jumlah total dari sembilan indikator tersebut.

Kedua alat tes ini sampai sekarang masih dan selalu digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang, namun sampai saat belum diketahui apakah tes tersebut cocok untuk subjek mahasiswa UIN atau tidak. Selain itu, pertanyaan yang penting untuk diajukan adalah apakah kedua tes tersebut mempunyai validitas yang tinggi atau tidak. Untuk menjawab kedua pertanyaan diatas, maka penulis tertarik dan menganggap penting untuk melakukan penelitian dengan judul validisi tes IQ pada mahasiswa UIN Malang.


Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka rumusan masalah yang ingin dicari jawabannya adalah:

1. Bagaimana tingkat validitas konkuren kedua jenis tes kecerdasan Standard Progressive Matrices (SPM ) dan tes Intelligenz Structure Test (IST)?

2. Indikator manakah dari tes Intelligenz Structure Test (IST) yang memiliki validitas kongkuren dengan tes Standard Progressive Matrices (SPM )?


Tujuan dan Manfaat penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk: 1) mengetahui gambaran tingkat kecerdasan intelektual pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Malang 2) mengetahui tingkat validitas dua jenis tes kecerdasan SPM dan IST.

Manfaat teoritis yang bisa diperoleh dari penelitian ini adalah adanya tambahan khasanah keilmuan dalam bidang psikologi, khususnya bidang psikometri, sedangkan manfaat praktis yang diharapkan adalah adanya informasi ilmiah yang bisa dijadikan pertimbangan dalam melakukan tes psikologis, baik bagi para mahasiswa dalam rangka kegiatan praktikum maupun bagi para psikolog ketika memberikan layanan tes psikologis pada masyarakat umum.


Kajian Teori

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur, yang sesuai dengan maksud pengukuran tersebut (Azwar: 2000). Selanjutnya dikatakan bahwa suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkap data dengan tepat tapi juga harus memberikan gambaran yang cermat (memberikan gambaran perbedaan yang sekecil-kecilnya diantara subjek yang satu dengan yang lain) mengenai data tersebut.

Berdasarkan cara estimasi yang sesuai dengan sifat dan fungsi setiap tes, Azwar (2000) membagi tipe validitas kedalam tiga kategori yaitu validitas isi, validitas konstruk, dan validitas berdasar kriteria.

1. Validitas isi (content validity) yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat profesional judgment. Tingkat validitas tes sangat tergantung pada penilaian subjektif individual. Validitas ini terbagi pada dua jenis, yaitu: A) validitas muka (face validity) yaitu yaitu validitas yang mendasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes dan b) validitas logik (sampling validity) yaitu validitas yang menunjukkan sejauhmana isi tes merupakan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur.

2. Validitas konstruk (construct validitiy) yaitu tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana tes mengungkap suatu traits atau konstruk teoritik yang hendak diukur.

3. Validitas berdasarkan kriteria (criterion-related validity) yaitu tipe validitas yang mendasarkan pada kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Validitas ini terbagi pada dua jenis yaitu: a) validitas prediktif (predictive validity) yaitu tipe validitas yang bertujuan sebagai prediktor bagi performansi diwaktu yang akan datang dan b) validitas konkuren (concurrent validity) yaitu tipe validitas yang kriterianya diperoleh melalui alat tes lain yang mengukur konstruk yang sama.

Dari uraian mengenai validitas, maka penelitian dikategorikan sebagai uji validitas konkuren karena ada tiga jenis tes yang diuji. Untuk pengujian dua jenis tes, maka analisisnya bisa dilakukan dengan perhitungan koefisien korelasi, semakin tinggi koefisien korelasinya maka kedua tes tersebut berarti mengukur konstruk yang sama. Untuk pengujian tes yang jumlahnya lebih dari dua, analisis dilakukan melalui uji beda, jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan maka tes tersebut memang menguji konstruk yang berbeda, dan sebaliknya.

Tes Standard Progressive Matrices (SPM). Tes ini pertama kali diciptakan oleh John. C Raven tahun 1938 dan pertama kali digunakan untuk Angkatan Bersenjata Inggris dalam Perang Dunia II. Tes ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan memahami figur yang tidak berarti dengan mengobservasi dan berfikir jernih pada saat mengerjakan tes, kemudian melihat hubungan antara figur-figur yang ada yang pada gilirannya mampu mengembangkan penalaran.

Jenis tes ini dikelompokan sebagai tes non verbal artinya materi soalnya tidak diberikan dalam bentuk tulisan ataupun bacaan melainkan dalam bentuk gambar-gambar. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan dalam hal pengertian dan melihat hubungan bagian bagian gambar yang disajikan serta mengembangkan pola berpikir yang sistematis. Tes ini dianggap sebagai culture fair test (adil untuk semua budaya) karena mampu meminimalkan pengaruh budaya tertentu.

Materi tes berupa gambar dengan sebagian yang terpotong, tujuanya subjek mencari potongan gambar yang cocok dari alternatif gambar yang disediakan. Penyajian tes dapat dilakukan secara klasikal atau individual yang hasilnya berupa persentil dan grade dari inteligensi. Tes ini terdiri dari 60 soal yang dikelompokkan dalam lima seri yaitu: A, B, C, D, dan E, setiap seri terdiri dari 12 item. Total waktu yang dibutuhkan tidak terbatas, tetapi biasanya disediakan waktu 30 menit.

Tes SPM disusun berdasarkan teori faktor ”g” yang dikemukakan oleh Spearman yang bertujuan untuk mengungkap kemampuan intelektual (inteligensi umum) individu. Aspek-aspek yang diungkap dalam tes ini adalah:

1. Kemampuan penalaran ruang yaitu kemampuan seseorang dalam memahami konsep ruang (spasial).

2. Kemampuan menganalisis, mengintegrasikan, mencari dan memahami sistem hubungan diantara bagian-bagian.

3. Kemampuan dalam hal ketepatan yaitu kemampuan seseorang dalam menghitung.

Tes Intelligenz Structure Test (IST). Tes ini adalah tes inteligensi yang dikembangkan oleh Rudolf Amthauer di kota Frankfurt Jerman pada tahun 1953. Tes ini dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan secara bermakna (gestalt). Suatu struktur inteligensi tertentu menggambarkan pola kerja tertentu, sehingga akan cocok untuk tuntutan profesi atau pekerjaan tertentu. Tes ini dikonstruksi untuk orang subjek usia 14 sampai dengan 60 tahun.

Tes ini mampu mengungkap sembilan aspek dan tiap-tiap aspek terdiri dari sub-tes. Aspek-aspek tersebut adalah melengkapi kalimat, melengkapi kata-kata, persamaan kata, sifat yang dimiliki bersama, berhitung, deret angka, memilih bentuk, latihan balok, dan latihan symbol.

Persamaan dan perbedaan kedua tes tersebut bisa dilihat dari beberapa aspek diantaranya: 1) Pengertian Inteligensi. Kedua orang pendiri tes ini, baik Rapen maupun Amthaur mengartikan inteligensi sebagai suatu kemampuan potensial dan merujuk pengertian inteligensi pada pengertian yang dikemukakan Spearman tentang konsep general factor. 2) Aspek yang diukur. Kedua tes mengukur aspek yang sifatnya kognitif, perbedaannya pada tes SPM aspek yang diungkap lebih sedikit dibanding dengan tes IST. 3) Bentuk tes. Pada tes SPM stimulus berupa gambar-gambar sedangkan pada tes IST berupa tulisan baik berupa kata-kata maupun angka. 4) Pelaksanaan tes. Keduanya bisa dilakukan secara klasikal (kelompok) atau individual. 5) Pemberian skor. Kedua jenis tes pada akhir pemberian skor mampu mengkategorikan kecerdasan seseorang menjadi tingkatan IQ berdasarkan klasifikasi tertentu. 6) Waktu pelaksanaan. Untuk pelaksanaan tes IST memerlukan waktu yang lebih lama dibanding dengan tes SPM dan 7) Subjek. Kedua jenis tes bertujuan untuk mengukur tingkat kecerdasan pada orang dewasa.


Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah adanya konsistensi hasil pengkuran pada kedua jenis tes inteligensi artinya kedua jenis tes tersebut mampu konstruk kecerdasan yang sama.


Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa baru Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang yang terdiri dari 3 kelas, tiap-tiap kelas terdiri dari 40 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quota sampling yaitu memilih sejumlah tertentu mahasiswa fakultas psikologi sebagai subjek penelitian. Jumlah yang diambil sebagai sampel satu kelas dengan pertimbangan bahwa jumlah yang terlalu sedikit khawatir kurang representatif terhadap populasi dan jumlah yang terlalu banyak ada kesulitan dalam pelaksanaan tesnya. Jumlah yang dijadikan subjek penelitian sejumlah 37 orang, dengan catatan ada 3 orang yang hasil tesnya tidak bisa dianalisis karena ada yang hanya mengikuti tes SPM tapi tidak mengikuti tes IST dan sebaliknya sehingga digugurkan sebagai subjek penelitian.


Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data, alat ukur yang digunakan adalah berupa tes psikologi. Tes yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Tes Standart Progressif Matrices. Tes ini berupa gambar dengan sebagian yang terpotong. Tugas subjek adalah mencari potongan yang cocok untuk gambar tersebut dari alternatif potongan-potongan yang sudah disediakan. Tes ini bisa diberikan secara individual maupun kelompok.

2. Tes Intelligenz Structure Test. Tes ini digunakan untuk orang dewasa yang mampu mengungkap 9 aspek perilaku inteligence. Tes ini bisa diberikan secara individual maupun kelompok.


Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa tingkat kecerdasan mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Malang berada pada kategori diatas rata-rata karena jumlah mahasiswa yang berada pada kategori inilah yang paling banyak dibanding dengan kategori lain, baik berdasarkan hasil tes Intelligenz Structure Test (IST) maupun Standard Progressive Matrices (SPM), sisanya berada pada kategori rata-rata dan di bawah rata-rata, dan dari tabel diatas bisa di lihat bahwa mahasiswa yang mempunyai tingkat kecerdasan di bawah rata-rata hanya 1 orang.

Berdasarkan hasil analisis dengan teknik korelasi product-moment diperoleh nilai r sebesar 0,575 dengan nilai P sebesar 0,000. Hasil diatas menunjukkaan bahwa walaupun ada beberapa perbedaan antara tes Standard Progressive Matrices (SPM) dan Intelligenz Structure Test (IST) namun kedua tes tersebut menunjukkan adanya korelasi yang sangat tinggi sehingga kedua tes tersebut mampu dianggap valid untuk mengukur aspek yang sama, dalam hal ini adalah tingkat kecerdasan.

Namun, dari hasil analisis yang diperoleh ditemukan bahwa tidak semua indikator pada tes Intelligenz Structure Test (IST) mempunyai korelasi yang positif dengan tes Standard Progressive Matrices (SPM), artinya indikator-indikator tersebut mampu mengungkap aspek yang tidak terukur pada tes Standard Progressive Matrices (SPM), sehingga bisa dikatakan bahwa tes Intelligenz Structure Test (IST) lebih banyak mengungkap aspek yang tidak terungkap oleh tes Standard Progressive Matrices (SPM).

Berdasarkan hasil analisis pada tiap-tiap indikator pada tes Intelligenz Structure Test (IST) ditemukan adanya enam indikator yang berkorelasi dengan tes Standard Progressive Matrices (SPM). Adanya enam indikator yang berkorelasi positif dengan Standard Progressive Matrices (SPM) menunjukkan bahwa walaupun tes Standard Progressive Matrices (SPM) berbentuk satu indikator tunggal tapi ternyata tes ini mampu mengungkap indikator lain yang ada dalam Intelligenz Structure Test (IST), dan bila dicermati dengan seksama maka aspek-aspek tersebut memang sudah terungkap melalui tes Standard Progressive Matrices (SPM) melalui cara dan prosedur yang berbeda.

Keenam indikator tersebut secara berurutan adalah sebagai berikut: 1) AN koefisien korelasi r2= ,539 dengan nilai P=,001; 2) ZE koefisien korelasi r2= ,345 dengan nilai P=,039; 3) RA koefisien korelasi r2= ,242 dengan nilai P=,041; 4) ZR koefisien korelasi r2= ,337 dengan nilai P=,044; 5) ZR koefisien korelasi r2= ,337 dengan nilai P=,044; 6) SE koefisien korelasi r2= ,337 dengan nilai P=,045

Ada beberapa alasan yang diduga menjadi penyebab mengapa tidak semua aspek pada tes Intelligenz Structure Test (IST) berkorelasi dengan skor tes Standard Progressive Matrices (SPM). Secara historis, memang tes Intelligenz Structure Test (IST) itu relatif lebih baru dibanding dengan Standard Progressive Matrices (SPM), karena itu ada beberapa perbaikan yang dilakukan oleh pembuat tes ini ketika melihat beberapa keterbatasan tes kecerdasaan sebelumnya, termasuk tes Standard Progressive Matrices (SPM), khususnya mengenai aspek-aspek yang diungkap dari tes.

Dalam dunia tes psikologis, Menurut Suryabrata (1990) karya Spearman tentang teori dua faktor merupakan hasil karya terbesar karena berdasarkan penelitiannya ia mampu menemukan adanya dua kemampuan pada umat manusia yaitu kemampuan yang bersifat umum (general factor) dan faktor yang bersifat khusus (spesific faktor). Pada kedua alat tes diatas, baik Standard Progressive Matrices (SPM) maupun Intelligenz Structure Test (IST) memang mengukur aspek yang sama yaitu faktor umum sehingga bisa dipahami jika hasil tes keduanya memang mempunyai korelasi yang tinggi.

Secara lebih khusus, sesungguhnya ada tiga aspek yang ingin diuji oleh tes Standard Progressive Matrices (SPM) yaitu 1) kemampuan penalaran ruang yaitu kemampuan seseorang dalam memahami konsep ruang (spasial), 2) kemampuan menganalisis, mengintegrasikan, mencari dan memahami sistem hubungan diantara bagian-bagian, dan 3) kemampuan dalam hal ketepatan yaitu kemampuan seseorang dalam menghitung. Hal ini juga menjadi alasan kenapa hanya ada 6 aspek bukan 9 aspek dari tes Intelligenz Structure Test (IST) yang berkorelasi dengan hasil tes Standard Progressive Matrices (SPM).

Dari keenam aspek yang paling tinggi koefisien korelasinya adalah aspek AN. Aspek ini mengukur lima hal yaitu 1) Kemampuan mengkombinasi; 2) Fleksibilitas berpikir; 3) Berpikir logis; 4) Tidak suka menyelesaikan sesuatu dengan dengan perkiraan saja; 5) Bila skor tinggi berarti mampu menangkap hubungan permasalahan. Bila dicermati dengan seksama ternyata ada kesamaan dengan aspek yang diukur dalam tes Standard Progressive Matrices (SPM) yaitu sejauhmana kedalaman seseorang dalam menggunakan fikirannya.

Aspek kedua yang korelasinya cukup tinggi adalah aspek ZE, kemampuan yang diukur pada aspek ini adalah 1) Kemampuan abstraksi, pembentukan pengertian; 2) Kemampuan untuk menyatakan/pengertian dalam bahasa; 3) Membentuk suatu pengertian atau mencari inti persoalan; 4) Pada remaja menunjukkan kemampuan rohaniah (gestig). Bila dicermati ternyata aspek inipun sangat erat kaitannya dengan ketiga aspek yang diukur dalam Standard Progressive Matrices (SPM).

Demikian seterusnya, bila dicermati ternyata aspek-aspek yang berkorelasi dengan hasil tes Standard Progressive Matrices (SPM) selalu ada aspek yang hampir sama. Lain halnya dengan ketiga aspek yang tidak berkorelasi, ada perbedaan yang cukup menonjol antara ketiga aspek tersebut dengan aspek yang diungkap dalam Standard Progressive Matrices (SPM). Ketiga aspek tersebut adalah FA yang menguji tentang pemilihan bentuk, ME yang menguji tentang latihan simbol, dan WU yang menguji latihan balok.

Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa walaupun ada korelasi yang tinggi antara kedua tes tapi ternyata tes Standard Progressive Matrices (SPM) tidak mampu mengukur semua aspek yang ada pada tes Intelligenz Structure Test (IST), konsekuensinya untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang nampaknya lebih memadai menggunakan tes Intelligenz Structure Test (IST), kecuali ada pertimbangan-pertimbangan lain yang memang mengharuskan digunakannya tes Standard Progressive Matrices (SPM).

Daftar Pustaka

Azwar, Saefudin, 2002, Psikologi Inteligensi, Cetakan Ketiga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Azwar, Saefudin, 2000, Validitas dan Reliabilitas, Cetakan kedua, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Cronbach, Lee J. (1996), Essentials of psychological Testing, New York: Harper & Row Publisher

Groth-Marnat, G, (1984), Handbook of Psychological Assessment, New York: Van Nostrand Reinhold Company

Hadi, Sutrisno, 1996, Metodologi Research, (Jilid 3), Cetakan ke-13, Yogyakarta: Andi Offset

Raven, John, C., 1972, Guide to The Standard Progressive Matrices, (Salinan Fakultas Psikologi UGM) Yogyakarta: UGM

Sukardi, Dewa Ketut, (1997), Analisis Tes Psikologis, Dalam Penyelenggaraan Bimbingan di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta

Winarsunu, Tulus, 1996, Stitistik, Teori dan aplikasinya dalam Penelitian, (Jilid 2), Malang: Universitas Muhamadiyah Malang Press

Vernon, P.E., 1973, Inteligence and Cultural Environtment, London: Methuen & Coorporation LTD

Senin, 01 Desember 2008

The Divelopment of creativity



MODEL PENGEMBANGAN
KREATIVITAS MELALUI KEGIATAN SYNECTICS

Oleh:
Dr. Rahmat Aziz, M.Si


Tulisan Ini merupakan ringkasan disertasi
pada jurusan Psikologi Pendidikan di Universitas Negeri Malang
dan berhasil dipertahankan dalam ujian doktor pada tanggal 7 Juli 2008.


A. Latar Belakang Masalah
Kreativitas merupakan aspek yang sangat penting dan berharga dalam setiap usaha manusia, sebab melalui kreativitas akan dapat ditemukan dan dihasilkan berbagai teori, pendekatan, dan cara baru yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Tanpa adanya kreativitas, kehidupan akan lebih merupakan suatu yang bersifat pengulangan terhadap pola-pola yang sama (Sternberg, 1992; De Bono, 1992).

Kreativitas dapat dipahami dengan pendekatan process, product, person, dan press (Rhodes, 1961; Torrence, 1995). Namun pengukuran yang banyak dilakukan para ahli hanya dilakukan pada ketiga aspek saja yaitu aspek process, product dan person (Eysenk, 1993; Simonton, 2003; Michael, 2001; Salsedo, 2006) sedangkan aspek press diartikan sebagai usaha untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pada pengembangan kreativitas anak (Vidal, 2005), baik di lingkungan masyarakat (Chuang, 2007), lingkungan keluarga (Chan, 2005; Pierce, 1992), maupun lingkungan sekolah (Beattie, 2000; King, 2007). Sekolah merupakan aspek yang sangat strategis dalam mengembangkan kreativitas siswa (Munandar, 1999).

Penelitian dalam upaya pengembangan kreativitas biasa dilakukan dengan dua cara yaitu 1) memberikan pelatihan yang berhubungan dengan kreativitas kemudian mengukur secara langsung perubahan yang terjadi akibat perlakuan tersebut seperti dilakukan oleh Kilgour (2006), Suharnan (2000), dan Gendrof (1996), 2) memadukan suatu perlakuan dalam pelajaran tertentu kemudian mengukur tingkat kreativitasnya sebagai dampak pengiring (nurturant effect) dari suatu proses pembelajaran, cara ini telah dilakukan oleh banyak peneliti antara lain Maryam (2007), Teo & Tan (2005), dan Burks (2005).

Pengembangan kreativitas pada penelitian ini dilaksanakan dalam konteks praktik pendidikan di sekolah. Hal ini merupakan salah satu jawaban terhadap kenyataan bahwa pendidikan di Indonesia saat ini lebih berorientasi pada hasil yang bersifat pengulangan, penghapalan, dan pencarian satu jawaban yang benar terhadap soal-soal yang diberikan. Proses-proses pemikiran tingkat tinggi termasuk berpikir kreatif jarang sekali dilatihkan (Joni, 1992). Demikian juga dengan kemampuan menulis siswa. Hasil temuan Wati (2005) menyatakan bahwa tingkat kemampuan menulis siswa berada pada kategori rendah. Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebabnya adalah proses pembelajaran yang kurang variatif.

Pendapat serupa telah dikemukakan oleh Lie (2004) yang menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia lebih berorientasi pada pengajaran yang bersifat satu arah, verbalistik, monoton, dan hapalan. Padahal, menurut Schmidt (2006) kemampuan kreatif sering muncul pada anak-anak, tapi seiring dengan bertambahnya usia kemampuan tersebut menjadi berkurang dan salah satu faktor yang menyebabkan kurang berkembangnya kreativitas adalah praktik pendidikan yang kurang mengapresiasi terhadap kemampuan kreatif anak.

Berdasarkan uraian di atas, diperlukan suatu alternatif dalam upaya pengembangan kreativitas. Salah satu bentuknya adalah dengan kegiatan synectics (Hummell, 2006). Pemilihan synectics sebagai alternatif dalam mengembangkan kreativitas didasari anggapan bahwa synectics memuat unsur imajinasi yang merupakan aspek penting dalam mengembangkan kreativitas. Hal ini telah dibuktikan dengan beberapa penelitian baik dalam hubungannya dengan kemampuan berpikir kreatif (Gendrop, 1996; Meador, 1994; dan Teo & Tan, 2006) maupun dalam hubungannya dengan kemampuan menulis kreatif (Burks, 2005; Keyes, 2006, dan King, 2007).

Ada beberapa alasan mengapa synectics diduga mampu mengembangkan kreativitas. Menurut Meador (1994) pada kegiatan synectics, ada usaha untuk menghubungkan antara konsep abstrak ke dalam konsep yang kongkrit atau sebaliknya. Hal tersebut berakibat pada berfungsinya kemampuan berpikir dan subjek menjadi semakin terasah kemampuannya. Pendapat lain dikemukakan Joyce & Weil (2000) yang menyatakan bahwa kegiatan synectics mampu mengembangkan kemampuan imajinasi seseorang secara bebas sampai terciptanya suatu pemahaman baru terhadap masalah yang dihadapi.

Pada konteks penelitian ini, pengembangan kreativitas difokuskan pada kemampuan berpikir dan menulis kreatif yang pelaksanaannya dilakukan melalui pelajaran bahasa Indonesia. Pemilihan bahasa Indonesia sebagai sarana pemberian perlakuan didasari anggapan bahwa pelajaran tersebut memungkinkan pengembangan kemampuan berpikir dan menulis kreatif siswa melalui penggunaan kegiatan synectics selain itu seperti yang diungkapkan oleh Nurhadi, Dawud, & Pratiwi (2005) bahwa saat ini seharusnya pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada pembelajaran bahasa secara kreatif.

Selanjutnya, penelitian Aziz (2006) tentang kreativitas pada 450 siswa Sekolah Menengah Pertama dengan menggunakan test Torrence yang mengukur aspek berpikir kreatif berupa kelancaran dalam berpikir, fleksibel dalam berpikir, orsinil dalam menemukan ide, dan kemampuan mengelaborasi gagasan menemukan bahwa siswa MTs Surya Buana mempunyai tingkat kemampuan berpikir kreatif lebih tinggi dibandingkan dengan siswa dari sekolah lainnya. Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab adalah proses pembelajaran di sekolah ini mengembangkan konsep sekolah alam yang pembelajarannya tidak hanya dilakukan dalam ruangan saja tapi bisa juga dilakukan di luar kelas. Hal ini berakibat pada adanya kesempatan siswa untuk lebih leluasa dalam mengekspresikan potensi kreatifnya (Sternberg & Lubart, 1995).

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berupa penelitian eksperimen yang bertujuan untuk membandingkan efek perlakuan pada kelompok eksperimen yang diberi kegiatan synectics sebelum mengarang dan kelompok pembanding yang tidak diberi kegiatan synectics sebelum mengarang pada pelajaran bahasa Indonesia.


B. Perumusan Masalah

Masalah yang ingin dicari jawabannya dalam penelitian ini terdiri dari tiga rumusan sebagai berikut:

  1. Apakah ada perbedaan kemampuan berpikir kreatif antara kelompok yang diberi perlakuan kegiatan synectics dengan kelompok pembanding yang tidak diberi perlakuan kegiatan synectics pada pelajaran bahasa Indonesia?
  2. Apakah ada perbedaan kemampuan menulis kreatif antara kelompok yang diberi perlakuan kegiatan synectics dengan kelompok pembanding yang tidak diberi perlakuan kegiatan synectics pada pelajaran bahasa Indonesia?



C. Hipotesis Penelitian

Sesuai dengan masalah yang ingin dijawab pada penelitian ini, maka hipotesis yang diajukan terdiri dari tiga bagian yaitu:

  1. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif antara kelompok yang diberi perlakuan kegiatan synectics dengan kelompok yang tidak diberi perlakuan kegiatan synectics, kelompok synectics lebih tinggi tingkat kemampuan berpikir kreatifnya dibanding dengan kelompok pembanding.
  2. Terdapat perbedaan kemampuan menulis kreatif antara kelompok yang diberi perlakuan kegiatan synectics dengan kelompok yang tidak diberi perlakuan kegiatan synectics, kelompok synectics lebih tinggi tingkat kemampuan menulis kreatifnya dibanding dengan kelompok pembanding.


D. Kajian Teori

a. Pengertian Kreativitas
Salah satu masalah penting dalam meneliti dan mengembangkan kreativitas adalah adanya banyak definisi tentang kreativitas, tapi tidak ada satupun yang dapat diterima secara universal, karena itu menurut Munandar (1999) tidak mungkin atau bahkan tidak perlu mendefinisikan kreativitas yang bisa diterima secara umum karena kreativitas dapat ditinjau dari aspek yang berbeda-beda. Rhodes (1961) berdasarkan kajian terhadap 40 definisi tentang kreativitas menyimpulkan bahwa pada umumnya kreativitas didefinisikan sebagai pribadi (person), proses (process), produk (product), dan pendorong (press). Pemahaman di atas kemudian dikenal dengan “P Four’s Creativity.

Selanjutnya dijelaskan bahwa sebagai process kreativitas berarti kemampuan berpikir untuk membuat kombinasi baru, sebagai product kreativitas diartikan sebagai suatu karya baru, berguna, dan dapat dipahami oleh masyarakat pada waktu tertentu, sebagai person kreativitas berarti ciri-ciri kepribadian non kognitif yang melekat pada orang kreatif, dan sebagai press artinya pengembangan kreativitas itu ditentukan oleh faktor lingkungan baik internal maupun eksternal.

Plukers, et al (2004) melakukan kajian yang mendalam dari berbagai literatur tentang kreativitas dan menyimpulkan bahwa kreativitas adalah interaksi antara sikap, proses, dan lingkungan dimana seseorang atau sekelompok orang menghasilkan suatu karya yang dinilai baru dan berguna dalam konteks sosialnya. Pendapat lain menyatakan bahwa definisi kreativitas dapat dikategorikan pada dua kelompok yaitu 1) yang berorientasi pada kemampuan dan 2) yang berorientasi pada produk (Urban & Jellen, 1996). Definisi kreativitas yang menekankan pada kemampuan telah dikemukakan Evans (1991) yang menyatakan bahwa kreativitas merupakan aktivitas berpikir yang menghasilkan cara baru dalam memandang suatu masalah, sedangkan definisi yang menekankan pada produk mendefinisikan kreativitas sebagai karya yang memiliki sifat baru, berguna, dan dapat dipahami (Amabile, 1996; Sternberg & Lubart, 1995; dan Halpern, 1996).

Kreativitas merupakan hasil interaksi antara proses, pribadi, produk dan lingkungan. Pada penelitian ini, proses diartikan sebagai proses berpikir kreatif yang diukur dengan tes Torrence, pribadi diartikan sebagai karakteristik sikap kreatif yang diukur dengan skala sikap kreatif, produk diartikan sebagai hasil karya siswa dalam membuat suatu tulisan kreatif berupa cerita pendek, dan lingkungan diartikan sebagai usaha untuk menciptakan suasana kondusif bagi pengembangan kreativitas siswa di sekolah berupa penggunaan kegiatan synectics pada pelajaran bahasa Indonesia.

b. Pengaruh Synectics Terhadap Kreativitas

Beberapa peneliti, walaupun tidak sepakat tentang pengertian kreativitas, ternyata mereka mampu mengembangkan pengukuran kreativitas dari tiga aspek. Para peneliti (Eysenk, 1993, Simonton, 2003, Salsedo, 2006) telah meneliti kreativitas berdasarkan pada aspek produk, proses, dan kepribadian. Selanjutnya Salsedo (2006) menjelaskan bahwa pengukuran kreativitas sebagai produk berarti memfokuskan pada hasil kegiatan kreatif, sebagai proses berarti memfokuskan pada bagaimana individu dalam mengekspresikan kreativitasnya, dan sebagai kepribadian berarti memfokuskan pada sikap, minat, motivasi dan faktor-faktor kepribadian lain yang berhubungan dengan kegiatan kreatif.

Berdasarkan ketiga aspek tersebut, Cropley & Cropley (2000) menjelaskan adanya tiga jenis tes kreativitas yaitu: 1) Tes yang mengukur aspek proses kreatif; 2) Tes yang mengukur karakteristik kepribadian kreatif; dan 3) Tes yang mengukur aspek produk kreatif. Selanjutnya, Besemer & O’Quin (1987) mengajukan cara pengukuran produk kreatif dengan membuat alat ukur berupa Creative Product Semantic Scale. Ia menyebutkan adanya tiga kriteria suatu produk dikategorikan sebagai produk kreatif, yaitu: 1) mempunyai unsur kebaruan (novelty), 2) mempunyai unsur Pemecahan (resolution), dan 3) mempunyai unsur elaborasi (elaboration) & sintesis (synthesis). Dalam hubungannya dengan kemampuan menulis kreatif, Besemer (2005) melakukan revisi terhadap kriteria di atas, ia mengganti aspek elaboration dan synthesis dengan istilah style (bentuk).

Synectics adalah kegiatan yang menggunakan analogi untuk membandingkan antara satu objek atau konsep dengan objek atau konsep yang lain. Istilah synectics diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan gabungan kata syn berarti menggabungkan dan ectics berarti unsur yang berbeda (Weaver & Prince, 1990).

Synectics dianggap mampu mengembangkan kreativitas karena dalam analogi ada usaha untuk menghubungkan antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang ingin dipahami (Kleiner, 1991). Bahkan, James (2002) menyimpulkan bahwa synectics merupakan cara yang paling efektif dalam kreativitas. Pada penelitian ini ada tiga jenis synectics yang digunakan yaitu:

1. Analogi langsung yaitu kegiatan perbandingan sederhana antara dua objek atau gagasan. Pada pembandingan ini dua objek yang dibandingkan tidak harus sama dalam semua aspek, karena tujuan sebenarnya adalah untuk mentranformasikan kondisi objek atau situasi masalah nyata pada situasi masalah lain sehingga terbentuk suatu cara pandang baru.
2. Analogi personal yaitu kegiatan untuk melakukan synectics antara objek synectics dengan dirinya sendiri. Pada synectics ini siswa diminta menempatkan dirinya sebagai objek itu sendiri, untuk melihat efektivitas synectics personal bisa dilihat dari banyaknya ungkapan yang dikemukakan, semakin banyak ungkapan yang dikemukakan maka semakin tinggi skor synectics personalnya.

3. Analogi compressed conflict yaitu kegiatan untuk mengkombinasikan titik pandang yang berbeda terhadap suatu objek sehingga terlihat dari dua kerangka acuan yang berbeda. Hasil kegiatan ini berupa deskripsi tentang suatu objek atau gagasan berdasarkan dua kata atau frase yang kontradiktif, misalnya: bagaimana komputer itu dianggap sebagai pemberani atau penakut? Bagaimanakah mesin mobil dapat tertawa atau marah?

Synectics diduga efektif dalam mengembangkan kreativitas, baik dalam bentuk kemampuan berpikir kreatif maupun kemampuan menulis kreatif karena synectics merupakan cara yang paling efektif dalam mengembangkan kreativitas (James: 2002). Secara empirik, terdapat beberapa bukti tentang pengaruh berbagai pembelajaran dan pelatihan yang didalamnya mengandung unsure synectics terhadap kemampuan berpikir dan menulis kreatif.

Penelitian Meador (1992) yang bertujuan untuk membandingkan pengaruh pelatihan synectics dalam mengembangkan kreativitas yang diukur dengan tes Torrence pada anak berbakat dan tidak berbakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa synectics mampu meningkatkan kreativitas. Penelitian yang sama dilakukan oleh Gendrop (1996) terhadap perawat di rumah sakit menemukan bahwa metode synectics mampu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif.

Temuan tentang efektivitas synectics dalam mengembangkan kemampuan menulis kreatif telah banyak dilakukan, diantaranya penelitian (Couch, 1993; Dykstra & Dykstra, 1997; Fowler, 1999) yang meneliti kemampuan menulis kreatif dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Cina telah dilakukan Zhang (2000), dan dalam bahasa Korea telah dilakukan oleh Teo & Tan (2005) yang menemukan bahwa penggunaan synectics Biyu (penggabungan kata dalam bahasa Korea) mampu mengembangkan kemampuan menulis kreatif pada siswa.

Pada penelitian ini, digunakan pendekatan eksperimen dan mengukur kreativitas dari kedua aspek tersebut dengan menggunakan variabel karakteristik sikap kreatif sebagai kovariat yang diduga berpengaruh terhadap kemampuan berpikir dan menulis kreatif.

Synectics yang pelaksanaannya menggunakan analogi langsung, analogi personal, dan analogi compressed conflict mempunyai dua dampak yaitu instructional effect yang merupakan tujuan langsung pembelajaran bahasa Indonesia yang ingin dicapai siswa berupa kemampuan menulis kreatif yang diukur dengan kemampuan menulis cerita pendek dan nurturant effect yang merupakan dampak pengiring sebagai hasil interaksi antara model pembelajaran dengan lingkungan sekitar yang dalam penelitian ini diukur dengan kemampuan berpikir kreatif.


E. Metode Penelitian
Rancangan Penelitian. Rancangan yang digunakan untuk menguji efektivitas kegiatan synectics dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan menulis kreatif adalah jenis rancangan pretest-posttest control group design.

Definisi Operasional. Dalam penelitian ini beberapa konsep dibatasi pengertiannya agar mudah dalam mengukurnya dan tidak menimbulkan salah pengertian. Definisi selengkapnya tentang konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Synectics yaitu suatu teknik pengembangan kreativitas yang kegiatannya berupa kegiatan analogi dengan cara melakukan perbandingan antara satu objek atau gagasan dengan objek atau gagasan lain. Pada penelitian ini ada tiga jenis analogi yang digunakan yaitu:
  • Analogi langsung adalah analogi yang menganalogikan suatu konsep abstrak dengan kehidupan yang nyata. Pada analogi ini siswa diminta untuk menganalogikan konsep abstrak dengan situasi kehidupan nyata. Misalnya bagaimana caranya memindahkan perabot yang berat kedalam ruang kelas, dianalogikan dengan bagaimana caranya hewan membawa anak-anaknya. Efektifitas analogi langsung bisa dilihat dari jarak konseptualnya, semakin jauh jarak konseptual, maka semakin tinggi kemampuannya dalam melakukan analogi.
  • Analogi personal adalah analogi yang menempatkan orang yang menganalogi dengan masalah yang dihadapinya. Pada analogi ini siswa diminta untuk mengungkapkan perasaannya seandainya menjadi objek analogi, penekanan pada kegiatan ini terletak pada keterlibatan empatetik terhadap objek analogi. Efektivitas analogi personal bisa dilihat dari banyaknya ungkapan yang dikemukakan, semakin banyak ungkapan yang dikemukakan maka semakin baik kemampuan analogi personalnya.
  • Analogi compressed conflict yaitu membuat suatu pasangan kata yang berlawanan, kemudian merangkaikannya dalam suatu kalimat. Pada kegiatan ini siswa diharapkan mengemukakan pasangan kata yang berlawanan dan bisa digunakan untuk mendeskripsikan suatu objek. Kata-kata dalam pasangan ini diambil dari hasil kegiatan membuat analogi langsung dan analogi personal.

2. Kreativitas adalah interaksi antara sikap, proses, dan lingkungan tempat seseorang atau sekelompok orang menghasilkan suatu karya yang dinilai baru dan berguna dalam konteks sosialnya. Pada penelitian ini kreativitas dikaji dari aspek:

  • Kemampuan berpikir kreatif yang diukur dengan menggunakan Torrence Test of Creative Thinking (Torrence, 1999). Tes ini mampu mengungkap keempat indikator berpikir kreatif sebagai berikut: 1) fluency diartikan sebagai kelancaran dalam kata, mengemukakan gagasan, menghubungkan sesuatu, dan berekspresi. Kelancaran ini merujuk pada kemampuan untuk mengemukakan banyaknya gagasan. 2) flexibility diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang bervariasi. 3) originality diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang tidak biasa. 4) elaboration diartikan sebagai kemampuan untuk mengembangkan gagasan dan merincinya secara detail.


  • Kemampuan menulis kreatif yang diukur dengan kemampuan membuat karangan berupa cerita pendek. Penilaian tes ini dilakukan berdasarkan expert judgment. Kriteria tulisan kreatif didasarkan pada tiga kategori produk kreatif yaitu: 1) Novelty (kebaruan) yaitu sejauhmana produk tersebut mempunyai unsur-unsur baru baik dalam teknik, bahan, ataupun konsep. Dalam suatu karangan, aspek kebaruan bisa dilihat dari isi karangan yang memenuhi dua kriteria yaitu unik dan menakjubkan; 2) Resolution (pemecahan) yaitu sejauhmana produk tersebut memenuhi kebutuhan untuk mengatasi situasi bermasalah. Dalam suatu karangan, aspek pemecahan bisa dilihat dari isi dan alur cerita suatu karangan yang memenuhi empat kriteria yaitu: masuk akal, bermanfaat, bernilai, dan dapat dipahami. Dan 3) Style (bentuk) yaitu sejauhmana produk tersebut mempunyai bentuk yang berbeda dengan produk lain. Dalam suatu karangan, aspek bentuk bisa dilihat dari karangan yang memenuhi tiga kriteria yaitu: jelas, sempurna, dan benar.


  • Sikap kreatif yaitu suatu karakteristik kepribadian yang bersifat non-kognitif berupa sikap yang cenderung menetap pada diri seseorang. Untuk mengukur karakteristik sikap kreatif digunakan skala psikologis tentang sikap kreatif yang disusun penulis, adapun karakteristik sikap kreatif adalah sebagai berikut:1) ketekunan dalam menghadapi cobaan; 2) keberanian menanggung resiko; 3) keinginan untuk berkembang; 4) toleranterhadap ketaksaan; 5) keterbukaan terhadap pengalaman baru; dan 6) keteguhan terhadap pendirian.

3. Jenis kelamin adalah karakteristik anatomis yang membedakan antara laki-laki dan perempuan yang diakibatkan karena jumlah kromosom X dan Y pada diri seseorang. Jenis kelamin pada penelitian ini dimaksudkan sebagai identitas subjek yang diperoleh subjek ketika mengisi instrumen penelitian. Data yang diperoleh diubah menjadi data berbentuk nominal dan dikode menjadi: 1) laki-laki; dan 2) perempuan.

Subjek dan tempat Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah alam MTs Surya Buana yang merupakan salah satu sekolah di bawah naungan Departemen Agama di kota Malang. Pemilihan tempat sebagai lokasi penelitian karena sekolah ini mengembangkan konsep yang pembelajarannya mengembangkan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) suasana belajar harus berada dalam suasana yang menyenangkan; 2) sekolah adalah rumah bagi siswa; 3) siswa adalah subjek dalam proses pembelajaran; 4) kebahagiaan anak adalah landasan seluruh program; 5) metode pengajaran harus bervariasi; dan 6) penghargaan terhadap kemajemukan kemampuan siswa (Djalil: 2005).

Pada awalnya subjek pada penelitian ini berjumlah sebanyak 50 siswa kelas (VII) tujuh yang terbagi pada dua kelas, namun 2 orang tidak disertakan dalam analisis karena tidak mengikuti tes setelah perlakuan sehingga jumlah subjek yang dianalisis hanya berjumlah 48 orang yang terbagi pada kelas eksperimen sebanyak 24 orang dan kelas pembanding sebanyak 24 orang.


Instrumen Pengumpulan Data. Ada tiga jenis data yang diukur dalam penelitian ini, karena itu pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu 1) kemampuan berpikir kreatif yang diukur dengan tes berpikir kreatif dari Torrence (1999); 2) kemampuan menulis kreatif yang dinilai rater berdasarkan kriteria produk kreatif yang dikembangkan Bessemer (2005); dan 3) karakteristik sikap kreatif yang diukur dengan skala psikologis yang disusun penulis berdasarkan teori Sternberg dan Lubart (1995). Skala ini sebelum digunakan terlebih dahulu diuji tingkat validitas dan reliabilitasnya selain itu untuk menentukan bobot jawaban dilakukan summated ratings.

Perlakuan. Kegiatan yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari empat tahapan yaitu: 1) kegiatan membuat analogi langsung yaitu membuat perumpamaan suatu konsep dengan dengan konsep yang lain; 2) kegiatan membuat analogi personal yaitu membuat perumpamaan suatu konsep dengan kehidupan yang nyata; 3) kegiatan membuat analogi compressed conflict yaitu membuat suatu pasangan kata yang berlawanan kemudian merangkaikannya dalam suatu kalimat; dan 4) kegiatan membuat karangan yaitu membuat karangan bebas tentang tema yang telah ditentukan dengan menggunakan gagasan-gagasan yang telah diperoleh pada kegiatan sebelumnya.

Langkah-langkah kegiatan synectics dibagi pada tiga kegiatan yaitu 1) kegiatan awal yang diisi dengan penyampaian materi pelajaran oleh guru; 2) kegiatan inti berupa kegiatan analogi langsung, analogi personal, analogi compressed conflict dan kegiatan membuat karangan dan 3) kegiatan penutup yaitu guru menutup pembelajaran. Pada kelompok pembanding, proses pembelajaran juga terbagi pada tiga kegiatan. Perbedaannya pada kegiatan inti sebelum kegiatan mengarang tidak ada kegiatan synectics tapi guru menyampaikan materi pelajaran tentang cara-cara mengarang yang baik.

Analisis Data. Jenis penelitian ini bersifat eksperimental dan jenis data yang diperolehnya berbentuk angka, karena itu analisis yang digunakan adalah dengan analisis statistik yang dalam pelaksanaannya menggunakan program SPSS versi 15.0 for window. Teknik analisis yang digunakan adalah Teknik analisis multivariate analysis of covariance, regression analysis, dan analysis of variance.

F. Hasil dan Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis pertama. Hasil analisis tentang kemampuan berpikir kreatif pada kedua kelompok menunjukkan nilai F=20,228 P=0,000 artinya hipotesis nol (Ho)yang menyatakan tidak adanya perbedaan kemampuan berpikir kreatif antara kelompok eksperimen dengan kelompok pembanding adalah ditolak. Hal ini bisa dilihat dari hasil perbandingan mean 115,21:104,46, kelompok yang diberi perlakuan lebih tinggi kemampuan berpikir kreatifnya dibanding dengan kelompok pembanding.

Hasil analisis dengan menyertakan variabel sikap kreatif terhadap kemampuan berpikir kreatif ditemukan nilai F=1,373 P=0,248, sedangkan jika yang disertakan hasil pretes berpikir kreatif nilai F=32,090 P=0,000 dengan koefisien determinan sebesar 0,427 artinya sikap kreatif tidak memberikan sumbangan bagi tinggi rendahnya hasil postes pada kemampuan berpikir kreatif.

Hasil di atas sejalan dengan temuan sebelumnya seperti Meador (1994) yang menyatakan bahwa pelatihan yang menggunakan synectics efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif pada anak-anak sekolah dasar baik pada anak berbakat maupun pada anak normal. Selanjutnya ia menemukan adanya bukti bahwa anak-anak berbakat lebih tinggi kemampuannya dalam melakukan synectics dibanding dengan anak-anak normal, hal ini berarti bahwa kegiatan synectics akan lebih efektif jika dilakukan pada anak-anak yang lebih cerdas.

Penelitian Teo & Tan (2006) selama dua bulan terhadap 174 siswa (91 perempuan dan 83 laki-laki) yang berusia antara 15-17 tahun menemukan bahwa penggunaan biyu sebagai cara untuk melakukan synectics membuat mereka meningkat kemampuannya dalam berpikir kreatif. Peningkatan yang terjadi sebelum dan sesudah perlakuan signifikan pada taraf 5% dengan perbandingan mean 3,35:3,87. Selanjutnya, mereka menjelaskan alasan terjadinya peningkatan yaitu 1) synectics melatih subjek untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan cara yang baru dan berbeda; 2) synectics melatih subjek untuk membuat hubungan antar berbagai konsep yang pada gilirannya mereka mampu mengungkapkan suatu konsep rumit dengan kata yang sederhana tapi kaya dalam makna.

Penelitian lain dilakukan Gendrop (1996) yang menemukan bahwa synectics efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif yang diukur dari aspek kelancaran, kefleksibelan, dan keaslian pada 97 orang perawat di rumah sakit. Perbedaan mean antara kondisi sebelum dan sesudah perlakuan pada aspek kelancaran 88,51:103,82, aspek kefleksibelan 43,37:49,29, dan aspek keaslian 38,27:58,41. Hasil di atas menunjukkan bahwa synectics mampu meningkatkan ketiga aspek kemampuan berpikir kreatif subjek dan peningkatan paling tinggi terjadi pada aspek keaslian.

Ada beberapa alasan mengapa kegiatan synectics mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Meador (1994) berpendapat bahwa dalam synectics intinya melakukan kegiatan analogi yang bertujuan untuk menghubungkan antara suatu konsep abstrak kedalam konsep kongkrit atau sebaliknya, sehingga fungsi kemampuan berpikir subjek menjadi terasah dan semakin berkembang. Kegiatan synectics pada penelitian ini terdiri dari tiga jenis yaitu 1) analogi langsung yaitu kegiatan perbandingan sederhana antara dua objek atau gagasan yang bertujuan untuk mentranformasikan kondisi objek atau situasi masalah nyata pada situasi masalah lain sehingga terbentuk suatu cara pandang baru; 2) analogi personal yaitu kegiatan untuk melakukan synectics antara objek synectics dengan dirinya sendiri; dan 3) analogi compressed conflict yaitu kegiatan untuk mengkombinasikan titik pandang yang berbeda terhadap suatu objek sehingga terlihat dari dua kerangka acuan yang berbeda.

Joyce & Weil (2000) menjelaskan bahwa tujuan kegiatan synectics adalah untuk mengembangkan struktur berpikir siswa sehingga mereka mampu memandang sesuatu yang dikenal dari perspektif baru dan mampu mengembangkan imajinasi secara bebas sampai diperoleh adanya pemahaman baru. Selain itu, dijelaskan pula bahwa kegiatan synectics mampu melepaskan ikatan strukutur mental yang sering menjadi penghalang munculnya gagasan-gagasan kreatif.

Pentingnya kegiatan analogi dalam kehidupan sehari-hari telah dikemukakan Schild, et, all (2004) yang menyatakan bahwa kemampuan mempersepsi dan melakukan synectics merupakan aspek penting dalam kognisi manusia untuk mengenal, mengelompokkan, belajar dan berperan penting dalam pengembangan ilmu dan kreativitas. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam melakukan synectics, suatu masalah yang baru (target masalah) dapat dipecahkan dengan solusi yang sudah pernah dilakukan, karena itu Kleiner (1991) mengatakan bahwa dalam synectics ada usaha untuk menghubungkan apa yang sudah diketahui dengan apa yang ingin diketahui.

Selanjutnya, hasil analisis yang menyatakan bahwa sikap kreatif ternyata tidak memberikan sumbangan yang signifikan baik terhadap kemampuan berpikir kreatif maupun terhadap kemampuan menulis kreatif menarik untuk dicermati lebih seksama. Ada beberapa alasan yang diduga menjadi penyebab diantaranya adalah:

1. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas instrumen menunjukkan bahwa nilai @ sebesar 0,8375 dan standar validitas item dinyatakan valid ketika melebihi nilai 0,2500 artinya walaupun reliabilitas instrumen sudah cukup tinggi namun standar ini masih belum memenuhi kriteria ideal, khususnya mengenai koefisien validitas item yang idealnya berada di atas angka 0,3000 (Anastasi & Urbina, 1997).

2. Konsep sikap kreatif yang diukur merupakan campuran dari enam ciri yang masing-masing bisa berfungsi sebagai variabel, hal ini berakibat pada skor yang diperoleh merupakan gabungan dari beberapa variabel yang belum tentu keenam cirri tersebut bersifat homogen, artinya skor yang tinggi pada satu karakteristik sikap kreatif belum dibarengi dengan tingginya skor pada sikap yang lain.

3. Dukungan teoritis yang menghubungkan karakteristik sikap kreatif dengan kemampuan berpikir kreatif belum memadai. Data empirik yang ditemukan masih besifat parsial. Beberapa temuan tentang sikap kreatif yang mempengaruhi terhadap kemampuan berpikir kreatif misalnya McCrae (1997) dan Schaefer, Diggins, & Milmann (Sternberg & Lubart, 1995) tentang keterbukaan terhadap pengalaman baru; temuan Kim (1990) tentang kesabaran dalam menghadapi tantangan; temuan Arp & Woodard (2004) tentang keiinginan untuk selalu berkembang; dan temuan Lopez (2003)tentang kepercayaan terhadap diri sendiri.

Penggunaan variabel sikap kreatif sebagai kovariat pada penelitian ini terbukti tidak sesuai dengan teori yang dibangun, karena itu bagi peneliti mendatang perlu untuk mengganti variabel sikap kreatif dengan variabel lain, misalnya tingkat kecerdasan intelektual. Karena hasil penelitian meta-analisis yang dilakukan Kim (2005) pada 21 jurnal internasional menemukan adanya korelasi antara kemampuan berpikir kreatif dengan tingkat kecerdasan intelektual (IQ) walaupun koefisien korelasinya tidak begitu besar.

Alternatif lainnya adalah dengan menjadikan keenam ciri sikap kreatif masing-masing menjadi satu variabel yang statusnya sebagai variabel kovarian. Penggunaan salah satu dari keenam sikap kreatif yang dijadikan sebagai variabel independen sudah banyak dilakukan, misalnya keterbukaan terhadap pengalaman dijadikan sebagai satu variabel (Lochbaum, et, all, 2002) atau tolerance terhadap ketaksaan sebagai satu variabel (Lane & Klenke, 2004) sehingga nantinya akan diketahui sikap kreatif mana yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kemampuan berpikir dan menulis kreatif.

Hasil pengujian hipotesis kedua. Hasil analisis tentang kemampuan menulis kreatif pada kedua kelompok menunjukkan nilai F=17,822 P=0,000 artinya hipotesis nol (Ho) yang menyatakan tidak adanya perbedaan kemampuan menulis kreatif antara kelompok yang diberi perlakuan kegiatan synectics dengan kelompok pembanding adalah ditolak. Hasil perbandingan mean antara kedua kelompok adalah 166,29:151,13, kelompok yang diberi perlakuan lebih tinggi tingkat kemampuan menulis kreatifnya dibanding dengan kelompok yang pembanding.

Hasil analisis dengan menyertakan variabel sikap kreatif terhadap kemampuan menulis kreatif ditemukan nilai F=3,620 P=0,064, sedangkan jika yang disertakan hasil pretes menulis kreatif nilai F=2,066 P=0,000 dengan koefisien sebesar 0,445 artinya sikap kreatif tidak memberikan sumbangan bagi tinggi rendahnya hasil postes pada kemampuan menulis kreatif, lain halnya dengan skor pretes yang ternyata berpengaruh signifikan terhadap skor postes menulis kreatif dengan koefisien determinan sebesar 44,5%.

Hasil ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya seperti Yuliati (1991) yang menemukan bahwa kegiatan synectics efektif dalam mengembangkan kemampuan menulis kreatif yang diukur dengan kegiatan mengarang pada siswa sekolah dasar. Penelitian dengan hasil yang sama dilakukan Wati (2005) pada siswa sekolah menengah pertama. Selanjutnya dikatakan bahwa implikasi teoritis dari hasil ini adalah siswa seharusnya dipandang sebagai individu yang unik untuk berkembang, bukan sebagai pribadi pasif yang hanya siap untuk menerima informasi. Penelitian lainnya dilakukan Liputo (2004) dengan pendekatan classroom action research menemukan bahwa kegiatan synectics efektif dalam mengembangkan kemampuan menulis kreatif yang diukur dengan kemampuan membuat puisi pada siswa sekolah pertama.

Penelitian pada mahasiswa telah dilakukan Maryam (2007) yang menemukan bahwa synectics yang dimodifikasi dengan model inkuiri sangat efektif dalam mengembangkan kreativitas berbahasa dalam menulis esai. Diantara aspek kreativitas yang peningkatannya sangat tinggi adalah aspek orisinalitas, elaborasi dan variasi penggunaan bahasa sedangkan aspek yang paling rendah peningkatannnya terjadi pada aspek aksentuasi positif.

Penelitian diluar negeri telah banyak dilakukan diantaranya adalah temuan Dykstra & Dykstra (1997) dan Fowler (1999) tentang efektivitas synectics dalam mengembangkan kemampuan menulis kreatif dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Cina telah dilakukan Zhang (2000), dan dalam bahasa korea telah dilakukan oleh Teo & Tan (2006) yang menemukan bahwa penggunaan Biyu (penggunaan kata dalam melakukan analogi) mampu mengembangkan kemampuan menulis kreatif pada siswa.

Penelitian Conley (2001) membandingkan tiga kelompok untuk mengetahui pengaruh synectics terhadap kemampuan menulis kreatif, hasil temuannya menyatakan bahwa kelompok yang diberi perlakuan synectics meningkat dua kali lebih tinggi dibanding dua kelompok lainnya yang tidak mendapat perlakuan dengan synectics. Ia menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena dalam synectics terjadi proses dinamika kelompok yang mendorong subjek untuk berperilaku kreatif karena adanya motivasi ekstrinsik yang disebabkan oleh pengaruh interaksi sesama siswa.

Penelitian dengan pendekatan kualitatif telah dilakukan Keyes (2006) yang mendeskripsikan penggunaan synectics sebagai salah satu model pembelajaran dalam mengembangkan kemampuan menulis kreatif, selain itu penelitian yang sama dilakukan Burks (2005) yang menguji kemampuan siswa dalam menulis kreatif dalam bahasa Inggris. Hasil kedua penelitian di atas menunjukkan bahwa guru sangat menikmati ketika mengajar dengan menggunakan synectics dan siswa mengalami perkembangan kemampuan menulis kreatif walaupun ternyata perkembangannya tidak terlalu tinggi.

Temuan menarik sehubungan dengan kemampuan menulis kreatif telah diungkapkan Pierce (1992) menjelaskan bahwa kebiasaan membaca seseorang dan tingkat pendidikan orang tua berkorelasi positif dengan tinggi rendahnya kemampuan menulis kreatif, sedangkan kebiasaan menonton televisi berkorelasi negatif. Hal ini bisa dipahami karena tingkat pendidikan orang tua akan berpengaruh pada cara mendidik anak-anaknya, khususnya dalam memberikan kesempatan untuk membaca buku, jika anak banyak membaca maka pikiran anak akan semakin kaya dengan informasi yang menjadi inspirasi dan sumber dalam melakukan kegiatan menulis. Lain halnya dengan kebiasaan menonton televisi, walaupun anak mendapatkan informasi tapi daya imaginasi anak cenderung kurang berkembang karena informasi yang diterima sudah lebih konkrit dibanding dengan informasi yang ada dalam bacaan.

Lain halnya dengan yang dilakukan King (2007) ketika mengajar dia menggunakan metode storymaking yaitu menggunakan cerita sebagai ilustrasi ketika mengajar, selain itu diapun menyuruh siswanya untuk bercerita di depan kelas. Berdasarkan hasil kajiannya dia menyimpulkan bahwa kreativitas baik dalam bentuk berpikir kreatif maupun menulis kreatif bisa dilakukan dengan cara storymaking karena didalamnya terdapat kegiatan imagery (membayangkan) yang juga merupakan inti dalam kegiatan synectics.

Uraian-uraian di atas mendukung pendapat bahwa synectics bisa dijadikan salah satu cara alternatif untuk mengembangkan kemampuan menulis kreatif. Namun demikian, ada temuan berbeda yang diungkapkan Kartini (2005) yang meneliti pengaruh pembelajaran model kontekstual dalam mengembangkan kemampuan menulis kreatif berupa cerita pendek. Pada penelitian ini ia memenita subjek untuk mengkaitkan pengalamannya dalam bentuk suatu cerita, dan dari hasil yang diperoleh ditemukan adanya perbedaan kemampuan menulis kreatif antara sebelum dan sesudah perlakuan dengan perbandingan mean 56,1:79,1.

Metode lain yang menarik untuk dicermati dalam upaya pengembangan kemampuan menulis kreatif adalah suasana kelas ketika menulis. Temuan Walter (2002) menyimpulkan bahwa subjek yang ketika menulis diiringi dengan musik Mozart ternyata memperoleh hasil yang lebih tinggi dalam menulis kreatif dibanding dengan subjek yang ketika menulis tidak diiringi musik. Temuan ini menjadi penting untuk dicermati bagi para peneliti selanjutnya, seandainya melakukan pelatihan untuk meningkatkan kreativitas dengan cara menggunakan synectics yang diiringi dengan musik klasik.

Selanjutnya, temuan mengenai sikap kreatif yang dijadikan kovariabel pada penelitian ini ternyata secara empirik tidak memberikan dukungan berarti bagi tinggi rendahnya kemampuan menulis kreatif. Alasan yang sama telah dikemukakan ketika penulis membahas hasil temuan mengenai kemampuan berpikir kreatif, khususnya mengenai konsep sikap kreatif dan tingkat validitas item, namun selain itu ada alasan lain yang diduga menjadi penyebabnya, diantaranya adalah:

  • Temuan empirik menunjukkan bahwa kemampuan menulis lebih banyak ditentukan oleh lingkungan baik lingkungan keluarga (Pierce, 1992) maupun lingkungan sekolah (King, 2007), karena akan membentuk kebiasaan pada seseorang untuk menulis.
  • Reliabilitas hasil ratings yang tidak terlalu tinggi. Hasil uji antar rater tentang kemampuan menulis kreatif pada hasil postes menunjukkan rata-rata reliabilitas antar rater sebesar 0,871 dan estimasi setiap rater hanya mencapai angka 0,641. Rendahnya angka yang diperoleh sangat mungkin disebabkan karena adanya perbedaan sudut pandang tentang tulisan kreatif diantara para rater yang memang latarbelakang keilmuannya berbeda.


Temuan mengenai berperannya lingkungan keluarga, khususnya mengenai peran orang tua (Pierce, 1992) menarik untuk ditindak lanjuti dalam suatu penelitian lanjutan. Selain itu penelitian Chan (2005) yang menemukan bahwa harapan orangtua, kekompakkan keluarga, dan pemberian kemandirian pada anak berakibat pada tingginya tingkat kemampuan berpikir anak, bisa juga dijadikan sebagai alternatif untuk dijadikan kovariabel dalam hubungannya dengan pengembangan kemampuan menulis kreatif siswa, karena ternyata hasil analisis selanjutnya pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan menulis kreatif.

Hasil pengujian hipotesis ketiga. Hasil analisis tentang hubungan antara berpikir kreatif dengan kemampuan menulis kreatif menunjukkan nilai R=0,586 dengan koefisien determinan sebesar 0,343 namun setelah dilakukan penyesuaian koefisien korelasinya (R-adjusted) berubah menjadi 0,329, ini berarti bahwa kemampuan berpikir kreatif mampu menjadi prediktor bagi tinggi rendahnya kemampuan menulis kreatif sebesar 32,9%.

Hasil analisis menemukan adanya pengaruh antara kemampuan berpikir kreatif dengan kemamapuan menulis kreatif, artinya semakin tinggi tingkat kemampuan berpikir kreatif seseorang, maka akan semakin tinggi pula tingkat kemampuan menulis kreatifnya. Sebaliknya, jika semakin rendah kemampuan berpikir kreatif seseorang maka akan semakin rendah pula kemampuan menulis kreatifnya.

Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Pierce (1992) pada 102 siswa sekolah dasar yang menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif dengan kemampuan menulis kreatif sebesar 0,319. Ini berarti bahwa berpikir kreatif dapat dijadikan sebagai prediktor bagi tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam menulis kreatif sebesar 10%.

Penelitian Han & Marvin (2002) menemukan bahwa kemampuan berpikir kreatif memberikan sumbangan sebesar 13,6% terhadap performance kreatif yang diukur dengan kemampuan bercerita pada siswa sekolah dasar. Ada kesamaan antara kemampuan bercerita dengan kemampuan menulis kreatif yaitu keduanya sama-sama menggunakan imaginasi untuk mengekspresikannya dan dilakukan secara spontan, jika bercerita diekspresikan secara lisan sedangkan kalau menulis kreatif diungkapkan secara tertulis.
Penelitian lain dilakukan Lee (2004) yang menemukan adanya korelasi antara beberapa sub-tes berpikir kreatif dari Torrence dengan performance creative yang diukur dengan Realistic story telling problems. Menurut Okuda, et al (1991) tes ini dianggap mempunyai validitas prediktif yang tinggi dengan kemampuan menulis kreatif, artinya kalau seseorang mempunyai skor yang tinggi dalam tes Realistic story telling problems maka iapun akan mempunyai skor yang tinggi pula dalam kemampuan menulis kreatif.

Penelitian yang dilakukan dalam bidang organisasi dilakukan Williams (2004) yang menemukan bahwa kemampuan berpikir divergen berkorelasi dengan performance creative yang dinilai rater, khususnya pada aspek novelty. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berpikir divergen merupakan aspek yang sangat menentukan dalam proses penciptaan karya kreatif, karena itu ia menyebut berpikir divergen dengan sebutan “kunci” dalam kreativitas.

Laporan Cramond, et, all (2005) tentang penggunaan tes berpikir kreatif (TTCT) menyatakan bahwa sampai 40 tahun terakhir tes ini masih sangat baik untuk memprediksi suatu karya kreatif yang dinilai oleh expert judgment sebesar 23%. Menulis cerita pendek adalah salah satu bentuk dari karya kreatif, karena itu bisa disimpulkan bahwa ada hubungan antara kemampuan berpikir kreatif seseorang dengan hasil karyanya.

Sebuah pertanyaan filosofis diajukan Forester (Bekurs & Santoli, 1999) berbunyi: Bagaimana saya tahu apa yang engkau pikirkan sampai saya lihat apa yang engkau katakan? Jawaban terhadap pertanyaan ini tentu saja memperkuat hubungan antara berpikir dengan menulis, karena tulisan seseorang merupakan ekspresi dari apa yang dipikir dan dirasakannya, apalagi bentuknya berupa tulisan kreatif yang pengungkapannya menurut Greene & Petty (1991) memang dilakukan secara langsung.

Ungkapan yang hampir senada dalam hubungannya antara berpikir dan menulis telah dikemukakan Wingersky, et al (1992) yang menyatakan bahwa sesuatu yang ditulis adalah sesuatu yang dipikir, artinya ada hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara berpikir dan menulis.

Uraian-uraian di atas menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara berpikir kreatif dan menulis kreatif, Kennedy (1998) menjelaskan bahwa dalam kegiatan menulis kreatif, siswa akan terlibat dengan penulisan kata, penggunaan tatabahasa, pengungkapan dan pengorganisasian pikiran dan perasaan, bahkan dengan sangat tegas Bekurs & Santoli (1999) menyebutkan bahwa menulis kreatif adalah berpikir kreatif karena dalam kegiatan menulis pasti melibatkan pikiran. Bean (1996) menyebutkan bahwa sebelum memulai menulis pasti seseorang dimulai dengan memfokuskan pikirannya, karena itu ia menyebutkan bahwa menulis itu merupakan suatu proses yang melibatkan kegiatan berpikir.

Roekhan (1991) menjelaskan proses menulis kreatif dalam hubungannya dengan proses berpikir sebagai berikut; suatu proses penciptaan karya sastra biasanya dimulai dari 1) munculnya ide dalam pikiran penulis; 2) penuangan dan pengkristalan ide tersebut; 3) menetapkan bentuk media ekspresi bahasanya; 4) mengekspresikan atau menuliskan ide tersebut menjadi karya sastra.

Implikasi praktis dari temuan di atas dalam konteks pengembangan kreativitas siswa adalah adanya sumber informasi sebagai bahan pertimbangan dalam upaya mengembangkan kemampuan menulis kreatif siswa artinya selain siswa diberi pengetahuan tentang cara menulis yang benar, juga memberikan pelatihan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dan salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah dengan melakukan analogi atau metapora dalam berpikir.


Hasil analisis Tambahan. Hasil analisis tambahan pada penelitian adalah mengenai pengaruh perbedaan jenis kelamin terhadap kemampuan berpikir dan menulis kreatif. Teknik analisis yang digunakan adalah analysis of variance karena itu asumsi yang harus dipenuhi selain dari normalitas sebaran adalah homogenitas varians. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa data yang dianalisis adalah normal dan homogen, kecuali data menulis kreatif ternyata datanya tidak homogen (0,006 < f="8.24" p="0,033" p="0,017">


G. Penutup

Hasil temuan di atas berimplikasi pada cara pengembangan kreativitas yang bisa dilakukan secara terintegrasi dalam bidang studi atau bisa juga dilakukan secara terpisah dalam program ekstrakurikuler berupa pelatihan-pelatihan berpikir kreatif atau metode pemecahan masalah secara kreatif, apapun bentuknya yang paling penting adalah kreativitas siswa harus dikembangkan dalam proses pendidikan, sehingga mampu menjawab anggapan bahwa pendidikan di Indonesia kurang mengapresiasi kreativitas.

Beberapa ahli seperti Tishman, et al (1995) mengajukan pengembangan berpikir baik dalam bentuk berpikir kritis maupun berpikir kreatif harus mulai dilakukan dalam praktek pembelajaran di kelas, karena itu setiap guru semestinya memahami dan mengerti cara mengajarkannya. Hal yang sama dikemukakan Senge (1999) yang menyatakan bahwa mengubah pendidikan berarti merubah cara berpikir. Selanjutnya ia mengajukan alternatif cara berpikir yang disebut dengan berpikir fleksibel.

Kegiatan synectics adalah kegiatan yang dikategorikan sebagai active learning, karena itu implikasi teoritis terhadap praktik pendidikan adalah adanya perubahan paradigma guru dalam memandang eksistensi siswa. Siswa bukanlah objek pasif yang hanya siap menerima informasi dari guru, tapi siswa adalah subjek aktif yang mempunyai potensi untuk berkembang, karena tugas pendidikan pada hakikatnya adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal sesuai dengan kebutuhan pribadi dan masyarakat sekitarnya.

Implikasi praktis bagi guru dan praktisi pendidikan lainnya adalah tugas guru untuk menggunakan model pembelajaran alternatif yang tepat dan bervariasi sesuai dengan materi yang diajarkan, salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan synectics sehingga diharapkan proses belajar mengajar tidak hanya menggunakan model konvensional yang akan membuat siswa menjadi jenuh dan kehilangan daya tarik untuk belajar. Proses belajar menurut De Porter & Hernacky (1992) akan berjalan efektif jika siswa berada dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan. Keadaan tersebut berimplikasi pada kesempatan siswa untuk mengekspresikan potensi kreatifnya.



H. Daftar Pustaka

Amabile, T.M. (1996). The Social Psychology of Creativity, New York: Springer Verlag

Arp, L., & Woodard, B.S. (2004). Curiosity and creativity as attributes of information literacy, Reference and User Service Quarterly, 44, 1, 31-35

Aziz, R. (1999). Hubungan antara kecerdasan emosional dan penyesuaian diri dengan kecenderungan berperilaku delinkuen pada remaja, Tesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Aziz, R. (2006). Studi tentang kreativitas pada siswa Sekolah Menengah Pertama di kota Malang. Psikoislamika, 3, 2, 239-254

Aziz, R. (2007). Pengaruh kepribadian ulul albab terhadap kecerdasan menghadapi tantangan, Laporan Penelitian, Malang: Lemlitbang Universitas Islam Negeri Malang

Aziz, R., & Mangestuti, R. (2005). Tiga jenis kecerdasan dan agresivitas mahasiswa, Psikologika, 21, 11, 64-77

Bean, J. (1998). Engaging Ideas, San Fransisco: Jossey-Bass Publisher

Beattie, D.K. (2000). Creativity In Art: The Feasibility of Assessing Current Conceptions In The School Context, Assessment in Education, 7, 2, 175-192

Bekurs, D., & Santoli, S. (1999). Writing is power: critical thinking, creative writing, and portofolio assessment, Bay Minette: Baldwin County High School

Besemer, S.P. (2005). Be creative!, using creative product analysis in gifted education, Creative Learning Today, 13, 4, 1-4

Besemer, S.P., & O’Quin, K. (1987). Creative product analysis: Testing a model by judging instrument, In S.G. Isaken (ed), Frontier of Creativity Research: Beyond the Basic, Bufallo, New York: Bearly

Brizendine, L. (2006). Female Brain, New York: Morgan Road Books

Burks, C.G. (2005). Combating The Bartleby Syndrome With Synectics: Examining Teacher Attitude And The Influences on Student Writing, Dissertation, Houston: Faculty of The College of Education, University of Houston

Chan, D.W. (2005). Family environtment and talent development of Chinese gifted student in Hongkong, Gifted Child Quarterly, 49, 3, 211-221

Chuang, L.M. (2007). The social psychology of creativity and innovation: Process theory perspective, Social Behavior and Personality, 35, 7, 875-887

Conley, D. (2001). Deliciously Ugly: Pursuing creativity in feature writing, Australian Journalism Review, 23, 1, 183-197

Couch, R. (1993). Synectics and Imagery, Developing Creative Thinking Through Images,

Cramond, B., Morgan, J.M., Bandalos, D., & Zuo, L. (2005). A report on the 40-year follow-up of the Torrence tests of creative thinking: Alive and Well in the new millennium, Gifted Child Quarterly, 49, 4, 283-291

Cropley, D.H., & Cropley, A.J. (2000). Fostering Creativity in Engineering Undergraduate, High Ability Studies, 12, 2

De Bono, E. (1992). Serious Creativity, Using The Power of Lateral Thinking to Create New Idea, New York: Harper Collins

De Porter, B., & Hernacky, M. (1992). Quantum Learning: Unleashing The Genius In You, New York: Dell Publishing

Djalil, A. (2006). Jejak-jejak menjadikan sekolah unggul di kota Malang, Malang: Sekolah Alam Bilingual Surya Buana Malang

Dykstra, J., & Dykstra, F.E. (1997). Imagery and synectics for modelling poetry writing. ERIC database ED408964

Eysenk, H. (1993). Creativity and personality: a theoretical perspective, Psychological Inquiry, 4, 147-178

Fowler E.D. (1999). Improving Style in Students Written Composition, ERIC database ED435096

Gendrop, S.C. (1996). Effect on intervention in synectics on the creative thinking of nurse, Creativity Research Journal, 9,1,11-19

Greene, H.A & Petty, W.T. (1991). Developing Language Skill In The Elementary School, Needham Heights: Allyn and Bacon, inc

Halpern, D.F., (1996), Though and Knowledge: An Introduction To Critical Thinking, New jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc

Han, K.S., & Marvin. C. (2002). Multiple creativities? Investigating Domain-Specificity of Creativity in young children, Gifted Child Quarterly, 46, 2, 98-108

Hummell, L. (2006). Synectics for Creative Thinking in Technology Education, The Technology Teacher, 66, 3, 22-27

James, P. (2002). Ideas in Practice: Fostering Methaporic Thinking, Journal of Developmental Education, 25, 3, 26-33

Joni, T.R. (1992). Memicu Perbaikan Pendidikan melalui Kurikulum. Basis, No.07-08, 49, 41-48

Joyce, M., & Weil, J. (2000). Models of Teaching, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Kartini, C. (2005). Pembelajaran kontekstual dalam menulis kreatif cerpen pada matapelajaran bahasa dan sastra Indonesia, Disertasi, Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Keyes, D.K. (2006). Metaphorical Voices: Secondary Student`s Exploration Into Multidimensional Perspective in Literature And Creative Writing Using The Synectics Model, Dissertation, Faculty of The College of Education, University of Houston

Kilgour, M. (2006). Improving the creative process: analysis of the effect of divergent thinking techniques and domain specific knowledge on creativity, International Journal of Business and Society, 7, 2, 79-107


Kim, K.H. (2005). Can only intelligent people be creative?, A meta-analysis, Journal of Secondary Gifted Education, 16, 2, 57-66

Kim, S.H. (1990). Essence of Creativity, A Guide to Tackling Difficult Problems, New York: Oxpord University Press

King, N. (2007). Developing imagination, creativity, and literacy through collaborative storymaking: a way of knowing, Harvard Educational Review, 77, 2, 204-227

Kleiner, C.S. (1991). The Effect of Synectics Training on Student’s Creativity And Achievement in Science, Dissertation, San Diego: Graduate Faculty of The School of Education, United States International University

Lane, M.S., & Klenke, K. (2004). The ambiguity tolerance interface: a modified social cognitive model for leading under uncertainty, Journal of Leadership and Organizational Studies, 10, 3, 69-81

Lee, Y.J. (2004). Effect of divergent thinking training on Torrence test of creative thinking and creative performance, Dissertation, Knoxville: University of Tennessee

Lie, A. (2004). Cooperative Learning, Memperaktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Gramedia

Liputo, E.R. (2004). Peningkatan kemampuan menulis puisi dengan strategi synectics pada siswa kelas II SMP Negeri Modayang, Tesis, Malang: Universitas Negeri Malang

Lochbaum, M.R, Karoly, P., & Landers, D.M. (2002). Evidence for the importance of openness to experience on performance of a fluid intelligence task by physically active and inactive participants, Research Quarterly for exercise and Sport, 73, 4, 437-444

Lopez, N.R. (2003). An Interactional Approach to Investigating Individual Creative Performance, Thesis, The Faculty of Department of Psychology, San Jose State University

Maryam, S. (2007). Pengembangan kreativitas berbahasa dalam menulis esay, Disertasi, Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Meador, K.S. (1994). The effect of synectics training on gifted and non-gifted kindergarten students, Journal for the Education of the Gifted, 18, 55-73

Michael, K.Y. (2001). The effect of computer simulation activity versus a hands-on activity on product creativity in technology education, Journal of Technology Education, 13, 1, 31-43

Munandar, S.C.U. (1977). Creativity and education, Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Munandar, S.C.U. (1999). Kreativitas dan Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat, Jakarta: Gramedia

Nurhadi, Dawud, & Pratiwi, Y. (2005). Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas VII, Jakarta: Erlangga

Okuda, S.M, Runco, M.A, & Berger, D.E. (1991). creativity and the finding and solving of real-world problems, Journal of Psychoeducational Assessment, 9, 45-53

Percy. B. (1993). The Power of Creative Writing, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall International, Inc

Pierce, C.L. (1992). The relationships of television viewing, reading, and the home environtment to children creativity, creative writing, and writing ability, Dissertation, Austin: The university of Texas

Prawitasari, J.E. (1993). Apakah wanita lebih peka daripada pria dalam mengartikan emosi dasar manusia?, Jurnal Psikologi, 1, 14-22

Prawitasari, J.E., & Kahn, M.W. (1985). Personality differences and sex similarities in American and Indonesian college students, The Journal of Social Psychology, 124, 703-708

Purwati, (1993). Hubungan antara pola asuh orangtua dengan penyesuaian diri remaja, Tesis, Yogyakarta: Program Pascasarjana Psikologi Universitas Gadjah Mada

Rhodes, M. (1961). An Analysis of Creativity, in: Isaken (editor), Frontiers of Creativity Research, Beyond The Basic, Buffalo, New York: Bearly, Ltd

Roekhan, (1991). Menulis Kreatif: Dasar-dasar dan Petunjuk Penerapannya, Malang: Yayasan Asih Asah Asuh

Salsedo, J. (2006). Using implicit and explicit theories of creativity to develop a personality measure for assessing creativity, Dissertation, New York: Department of Psychology at Fordham University

Schild, K., Herstatt, C., & Lüthje, C. (2004). How to Use Synecticses for Breakthrough Innovation, Hamburg: Institute of Technology and Innovation Management

Schmidt, P.B. (2006). Creativity and coping later life, Generation, 30, 1, 27-31

Senge, P. (1999). Flexibility in thinking: The capacity to shift perspective, in A. Costa (ed), Teaching For Intelligence II, Arlington Hights, Illinois: Skylight Training & Publishing Inc

Simonton, D. (2003). Scientific creativity as constrained stochastic behavior, The integration of product, person, and process perspective, Psychological Buletin, 129, 475-494

Sternberg, R. (1992). Cognitive Approach to Intelligence, In B.B Wolman (Eds), Handbook of Intelligence: Theories, Measurement, And Application, New York: John Willey and Sons

Sternberg, R.J. (1999). The Concept of Creativity: Prospects and Paradigms, In Stenberg & Lubart (eds), Hand Book of Creativity, New York: Cambridge University

Sternberg, R.J., & Lubart, T.I. (1995). Defying The Crowd, Cultivating Creativity in a Cultural of Conformity, New York: A Division of Simon & Schuster Inc

Suharnan, (2000). Pengaruh pelatihan imajeri dan penalaran terhadap kreativitas, Anima, Indonesian Psychological Journal, 16, 1, 3-21

Tafti, M.A., & Babali, F. (2007). A study of compatibility of thinking styles with field of studies and creativity of university students, ABR & TLC Conference Proceedings, Hawaii, 1-5

Teo, T., & Tan, A. (2006). The use of Biyu in students creative writing: a study on an intervention program, The Korean Journal of Creative Thinking, 3, 1, 30-39

Tishman, S., Perkins, D.N., & Jay, E. (1995). The Thinking Classroom, Learning and Teaching in a Culture of Thinking, Boston: Allyn & Bacon

Torrence, E.P. (1995). Education and The Creative Potential, Minneapolis: University of Minnoseta Press

Torrence, E.P. (1999). Torrence Test of Creative Thinking, Beaconville: Scholastics Testing Services

Urban, K.K., & Jellen, H.G. (1996). Test For Creataive Thinking-Drawing Production, Lisse, Netherlands: Swets & Zeitlinger

Vidal, R. (2005). Creativity for operational researchers, Investigacao Operacional, 25, 1-24

Walter, T.L. (2002). A case study of the effect of classical background music on student behavior and creative thinking, Dissertation, Caldwell College

Wati, S. (2005). Penerapan model sinectics dalam meningkatkan kreativitas menulis, Disertasi, Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Weaver, W.T., & Prince, G.M. (1990). Synectics: Its potential for education, Phi Delta Kappan, 71, 5, 378-388

Williams, S.D. (2004). Personality, attitude, and leader influences on divergent thinking and creativity in organizations, European Journal of Innovation Management, 7, 3, 187-204

Wingersky, J., Boerner, J., & Balogh, D.H. (1992). Writing Paragraphs and Essay, California: Wadsworth Publishing Company

Wycoff, J. (1991). Mindmapping: Your Personal Guide to Exploring Creativity and Problem Solving, New York: Berkley Book

Yuliati, N. (1991). Penerapan Kegiatan Synectics dalam Pengajaran Bidang Studi Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, Tesis, Malang: Universitas Negeri Malang

Zhang, Y.C. (2000). Thinking Skills And It’s Teaching, Taibei: Xinly Chubanshe