My Family

Tampilkan postingan dengan label Skala Psikologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skala Psikologis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2009

The Emotional Intelligence Scale


SKALA KECERDASAN EMOSIONAL

Oleh:

Rahmat Aziz, M.Si

Skala ini merupakan alat ukur penelitian yang pernah digunakan penulis ketika menyusun tesis pada Program Magister Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta pada tahun 1999. Jumlah item pada awalnya sebanyak 60 buah tapi setelah dilakukan pengujian validitas ditemukan item valid sebanyak 48 item dengan reliabilitas sebesar @0,8972. Pengujian validitas dilakukan pada 110 siswa Sekolah Menengah Atas Negeri di Yogyakarta.

Istilah Emotional Intelligence yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Kecerdasan Emosional, pertama kali diperkenalkan oleh Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayor dari University of New Hampshire pada tahun 1990, kemudian dipopulerkan oleh seorang penulis kenamaan yang bernama Daniel Goleman dengan sebuah buku Emotional Intelligence.

Pentingnya kecerdasan emosional dalam kehidupan seseorang telah disitir oleh Goleman (1996) yang mengatakan bahwa kecerdasan bila tidak disertai dengan pengolahan emosi yang baik tidaklah akan menghasilkan seseorang sukses dalam hidupnya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa peranan kecerdasan akademik hanyalah sekitar 20% untuk menopang kesuksesan hidup seseorang, sedangkan 80% lainnya ditentukan oleh faktor yang lain, yang diantaranya adalah faktor kecerdasan emosional. Pendapat lain yang senada dengan Goleman, dikemukakan oleh Patton (1998) yang mengatakan bahwa orang yang kecerdasan emosionalnya tinggi cenderung akan mengalami kesuksesan ditempat kerjanya.

Patton (1998) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif dalam mencapai suatu tujuan. Gardner (dalam Goleman, 1996), menyebut istilah kecerdasan emosional dengan istilah kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, adapun definisi dari kedua istilah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kecerdasan antarpribadi adalah kemampuan untuk memahami orang lain, yang wujudnya berupa pemahaman terhadap apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, dan bagaimana mereka bekerja sama dengan sesamanya. Dalam rumusan yang lain, ia mengatakan bahwa kecerdasan antarpribadi itu mencakup kemampuan untuk membedakan dan menaggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan hasrat orang lain.

2. Kecerdasan intrapribadi adalah kemampuan yang bersifat korelatif tetapi terarah kedalam diri sendiri, yang wujudnya berupa kemampuan untuk membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri, serta kemampuan untuk menggunakan model tersebut sebagai alat untk menempuh kehidupan secara efektif.

Senada dengan pendapat diatas, dikemukakan oleh Carkhuf (dalam Martaniah, 1997), yang mengatakan bahwa kecerdasan emosional melibatkan pada dua faktor, yaitu faktor emotivation yang pada prakteknya melibatkan pada pengembangan misi diluar diri sendiri, dan faktor motivation yang pada prakteknya melibatkan pada diri sendiri.

Skala ini menggunakan skala Likert yang terdiri atas lima alternatif jawaban, yaitu Sangat Seutuju (SS), Setuju (S), Ragu-ragu (R), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skala ini mengungkap tinggi rendahnya kecerdasan emosional subjek yang mengacu pada aspek-aspek kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Goleman (1996) Gardner dan Salovey (Goleman, 1996), yaitu :

1. Kecerdasan Intrapersonal, yang terdiri dari kemampuan untuk sadar terhadap diri sendiri, kemampuan untuk mengendalikan dorongan hati, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan kemampuan untuk tetap optimis.

2. Kecerdasan Antarpersonal, yang terdiri dari kemampuan untuk berhubungan atau bersahabat dengan orang lain dan kemampuan untuk berempati dengan orang lain.

  1. Setiap tindakan yang saya lakukan, biasanya saya telah memperhitungkan resiko yang akan dihadapi.
  2. Bila menghadapi masalah, biasanya saya memusatkan perhatian pada apa yang dapat saya perbuat untuk memecahkannya.
  3. Saya telah belajar banyak tentang diri sendiri dengan cara mendengarkan perasaaan batin saya.
  4. Bila mempunyai masalah, saya tahu kemana saya harus pergi dan apa yang harus saya lakukan.
  5. Saya dapat menerima dfan menghibur diri sendiri, bila ada satu keinginan yang tidak tercapai.
  6. Seringkali saya tidak dapat menahan keinginan untuk melanggar norma-norma yang ada di mayarakat.
  7. Walaupun terkadang terasa menjenuhkan, tapi saya bisa menikmati dan bersabar ketika menunggu sesuatu.
  8. Ketika tiba-tiba timbul satukeinginan, maka saya harus segera mendapatkan keinginan itu bagaimanapun caranya.
  9. Saya mau berkorban, demi mendapatkan sesuatu yang lebih berarti walaupun harus menunggu begitu lama.
  10. Saya merasa sulit untuk memulai suatu kegiatan yang sudah direncanakan dengan matang.
  11. Saya biasa bekerja keras untuk dapat mewujudkan keinginan yang sudah saya tekadkan dalam hati.
  12. Saya termasuk orang yang biasa menunda pekerjaan, karena saya hanya bisa bekerja bila dalam keadaan santai.
  13. Sekalipun ujian pertama saya gagal, saya tetap akan berusaha belajar lebih giat dan penuh semangat untuk mengikuti ujian perbaikan.
  14. Saya selalu menasehati diri sendiri agar dapat mencapai prestasi tinggi dari setiap kegiatan yang saya lakukan.
  15. Akhir-akhir ini saya seringkali merasa kurang bergairah atau bersemangat dalam mencapai prestasi.
  16. Saya sering tenggelam dan hanyut dalam masalah yang dihadapi, sehingga merasa tak berdaya untuk melepaskan diri.
  17. Ketika mendapatkan suatu masalah, saya sangat yakin bahwa masalah itu pasti akan berakhir.
  18. Saya melihat bahwa tantangan dan rintangan adalah merupakan sarana belajar untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.
  19. Saya merasa bahwa apa yang saya lakukan selama ini hanyalah perbuatan yang sia-sia belaka.
  20. Saya sering merasa takut dan ragu bila harus elakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.
  21. Dalam hidup ini saya merasa lebih banyak mendapat kekecewaan dibanding dengan kebahagiaan.
  22. Saya banyak mempunyai teman yang dapat diandalkan, baik ketika sedih maupun ketika senang.
  23. Saya tahu bahwa sebenarnya keadaan saya sekarang ini kurang begitu penting bagi teman-teman.
  24. Saya sering merasa tidak mampu bila diminta tolong untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh teman.
  25. Saya merasa kurang dapat menerima pandangan orang lain yang berbeda pendapat dengan saya.
  26. Saya merasa ragu apakah teman-teman peduli terhadap saya sebagaimana layaknya seorang teman.
  27. Saya dapat mengenali emosi orang lain, hanya dengan memperhatikan mata dan nada suaranya.
  28. Saya jarang sekali terdorong untuk menghibur orang lain yang sedang mengalami musibah.
  29. Saya merasa sulit untuk menjadi seorang pendengar yang baik ketika ada teman yang ingin menumpahkan masalahnya.
  30. Dalam berinteraksi dengan orang lain, saya selalu memperhatikan perasaan orang lain.
  31. Saya dapat mengetahui dan merasakan, bila orang yang dekat dengan saya sedang merasa kesal.
  32. Saya tidak mau jika harus memikirkan masalah-masalah yang dihadapi oleh orang lain.

Jumat, 09 Januari 2009

The Alternatif measurement of creative atitude

ALTERNATIF PENGUKURAN SIKAP KREATIF

Oleh:
Dr. Rahmat Aziz, M.Si


Skala ini merupakan skala yang disusun dan digunakan penulis dalam mengukur karakteristik kepribadian kreatif pada penelitian disertasi.
Pada awalnya jumlah item terdiri dari 60 buah tapi setelah dilakukan pengujian validitas ditemukan hanya 24 buah item yang valid dengan tingkat reliabilitas sebesar @0,8375.
Isi dan tema pernyataan yang digunakan dalam skala disesuaikan dengan subjek penelitian pada siswa sekolah menengah pertama yang berusia antara 11-13 tahun,
Bagi pembaca yang akan menggunakan skala ini diharapkan 1) menambahkan item pada indikator yang jumlah itemnya masih sedikit; 2) menyesuaikan isi dan tema dengan subjek penelitian yang akan digunakan; dan 3) menguji kembali tingkat validitas dan reliabilitas, akan lebih baik kalau sampai pada pengujian validitas konstruk dengan menggunakan analisis faktor.

A. Landasan teoritis
Sikap kreatif adalah suatu karakteristik kepribadian non-kognitif yang biasanya terdapat pada orang kreatif. Istilah sikap kreatif (creative attitude) telah digunakan oleh beberapa ahli seperti Germana (2007), Munandar (1997). Bahkan Schaefer (1971), telah menyusun instrumen pengukuran tentang sikap kreatif. Ada beberapa karakteristik sikap kreatif yang disebutkan oleh para ahli. Sternberg & Lubart (1995) menyebutkan ciri-cirinya sebagai berikut: 1) ketekunan dalam menghadapi tantangan; 2) keberanian untuk menanggung resiko; 3) keinginan untuk berkembang; 4) toleransi terhadap ketaksaan; 5) keterbukaan terhadap pengalaman baru; dan 6) keteguhan terhadap pendirian.
Kriteria di atas ternyata banyak disetujui dan didukung oleh tokoh-tokoh lain seperti Munandar, (1999), Amabile, (1996), Cramond, (1998), Csikszentmihalyi, (1996), dan Starko, 1995). Selanjutnya keenam kriteria di atas dijadikan sebagai indikator sikap kreatif yang uraiannya adalah sebagai berikut:

  • Ketekunan dalam menghadapi cobaan (Sternberg & Lubart, 1995) yaitu kemampuan seseorang untuk tetap mengerjakan atau menyelesaikan tugas atau masalah yang sedang dihadapi. Masalah yang dihadapi bisa berupa masalah dalam kehidupan sehari-hari ataupun masalah akademik yang berhubungan dengan tugas-tugas sekolah.
  • Keberanian menanggung resiko (Amabile, 1996; Cramond, 1998; Csikszentmihalyi, 1996; Sternberg, 2000) yaitu kesanggupan atau kesediaan seseorang untuk mengambil resiko terhadap apa saja yang akan diusahakan atau dihasilkan. Resiko yang akan ditanggung bisa berupa pengorbanan material, pengorbanan fisik, pengorbanan psikologis, dan pengorbanan sosial.
  • Keinginan untuk berkembang (Sternberg, 2000) yaitu hasrat untuk selalu tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. Karakteristik ini bisa terlihat dari sikap yang selalu berusaha untuk memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.
  • Toleransi terhadap ketaksaan (Amabile, 1996; Davis, 1998; Starko, 1995, Sternberg, 2000) yaitu penerimaan diri terhadap adanya sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Karakteristik ini ditunjukkan dengan adanya sikap apresiatif terhadap sesuatu yang ambigu dan tidak menganggap ambiguitas sebagai ancaman terhadap dirinya.
  • Keterbukaan terhadap pengalaman baru (Amabile, 1983; Csikszentmihalyi, 1996;) yaitu suatu kemampuan untuk bersikap fleksibel, terbuka, menghargai berbagai pandangan orang lain sehingga memungkinkan untuk mendapatkan sesuatu yang baru, dan keinginan untuk mendapatkan tantangan baru.
  • Keteguhan terhadap pendirian (Sternberg & Lubart, 1995) yaitu suatu kepercayaan terhadap kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri sehingga menjadi bebas dalam berpendapat dan berani berbeda dengan lingkungan sekitarnya walaupun harus menerima resiko yang tidak menyenangkan.



B. Bentuk dan Validasi Skala
Sikap kreatif adalah karakteristik kepribadian yang bersifat non-kognitif yang diukur dengan skala psikologis. Bentuk skala yang digunakan adalah skala pengukuran model Likert yang jawabannya terdiri dari lima alternatif jawaban, dimana sebagai dasar penentuan nilainya dikategorikan dalam sangat setuju (SS), setuju (S), Netral (N),dan tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Skala psikologi ini terdiri dari pernyataan yang favourable dan unfavourable yang tujuannya untuk melihat konsistensi subjek dalam memberikan jawaban.
Selanjutnya untuk pengujian validitas dan reliabilitas, analisisnya dilakukan melalui dua proses yaitu 1) melakukan summated ratings yang bertujuan untuk memberikan bobot nilai terhadap butir-butir item, dan 2) melakukan pengujian validitas butir item yang bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas item.
Hasil analisis summated ratings diperoleh adanya variasi skor pada masing-masing alternatif jawaban, artinya tidak semua item mempunyai bobot 1, 2, 3, 4, 5 untuk alternatif jawaban sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Karena itu pemberian skor tiap-tiap butir item ditentukan berdasarkan hasil perhitungan tersebut sehingga ditemukan adanya jawaban sama tapi skor yang diperolehnya berbeda karena itemnya berbeda.
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah butir item itu baik atau tidak. Bentuk uji validitas yang dilakukan adalah dengan pendekatan internal consistency yaitu suatu pendekatan yang menguji korelasi antar skor butir item dengan skor total skala. Anggapan yang digunakan adalah korelasi yang tinggi menunjukkan adanya kesesuaian antara fungsi butir-butir item dengan fungsi skala secara keseluruhan. Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi alat ukur ini sehingga hasil yang diperoleh dapat dipercaya.
Uji validitas instrumen dilakukan pada 159 siswa MTs Surya Buana Malang kelas VII (tujuh), VIII (delapan) dan IX (sembilan) yang tidak dijadikan subjek penelitian. Pada penelitian ini kriteria suatu instrumen dikatakan reliabel ketika nilai yang diperoleh lebih besar dari 0,6000 sedangkan suatu item dinyatakan valid ketika koefisien korelasinya di atas 0,2500. Pengujian analisis butir ini dilakukan dengan cara:

  • Menggugurkan item-item yang nilai koefisien korelasinya bertanda negatif, dari hasil analisis ditemukan ada 8 item gugur yaitu item nomor 2, 17, 35, 36, 40, 55, 57, 59.
  • Menggugurkan item-item yang nilai koefisien korelasinya kurang dari angka 0,1000, dari hasil analisis ditemukan ada 5 item gugur yaitu item nomor 16, 33, 46, 48, 56.em valid
  • Menggugurkan item-item yang nilai koefisien korelasinya kurang dari angka 0,1500, dari hasil analisis ditemukan ada 6 item gugur yaitu item nomor 6, 12, 18, 37, 45, 50.
  • Menggugurkan item-item yang nilai koefisien korelasinya kurang dari angka 0,2000, dari hasil analisis ditemukan ada 5 item gugur yaitu item nomor 19, 32, 42, 51, 52.
  • Menggugurkan item-item yang nilai koefisien korelasinya kurang dari angka 0,2500, dari hasil analisis ditemukan ada 2 item gugur yaitu item nomor 4 dan nomor 10.

Dari hasil pengujian 60 item ditemukan adanya 24 valid dan 26 gugur dengan nilai reliabilitas sebesar @ 0,8375. Sebaran item valid pada setiap indikator adalah sebagai berikut: ketekunan 5 item, keberanian 4 item, keinginan berkembang 6 item, toleransi 3 item, keterbukaan 3 item, dan kepercayaan 3 item.

C. Skala Sikap Kreatif
Dibawah ini terdapat sejumlah pernyataan tentang situasi yang diandaikan benar-benar terjadi. Anda diminta untuk memilih salah satu dari lima pilihan mengenai apa yang sesuai dengan diri anda. Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling sesuai dengan cara memberikan tanda (X) pada salah satu kolom di lembar jawaban yang tersedia.
(SS) jika anda merasa sangat sesuai dengan pernyataan tersebut; (S) jika anda merasa sesuai dengan pernyataan tersebut; (KS) jika anda merasa kadang sesuai dengan pernyataan tersebut; (TS) jika anda merasa tidak sesuai dengan pernyataan tersebut; dan (STS) jika anda merasa sangat tidak sesuai dengan

  1. Saya sering mensikapi setiap kesulitan sebagai sebuah ujian kesabaran (1)
  2. Menurut saya, kesabaran itu bisa dicirikan dengan adanya ketekunan dalam berusaha (1).
  3. Walaupun tugas tergolong rumit, saya biasanya menyelesaikan tugas tersebut sampai tuntas (1).
  4. Saya sering bekerja dengan penuh semangat sehingga merasa waktu berjalan terlalu cepat (1).
  5. Saya percaya bahwa dengan ketekunan, tujuan akan tercapai (1).
  6. Kalau saya gagal, saya siap menanggung segala akibatnya walaupun terasa menyakitkan (2).
  7. Menurut banyak teman, saya dianggap sebagai orang yang berani bertanggung jawab (2).
  8. Saya merasa sebagai pemberani karena mau menerima akibat atas perbuatan (2).
  9. Prinsip saya, berani berbuat maka harus berani bertanggung jawab apapun resikonya (2).
  10. Saya merasa bergairah jika diberi tugas untuk melakukan pekerjaan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya (3).
  11. Saya akan merasa kecewa jika tidak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sekolah (3).
  12. Saya selalu merasa ingin tahu apa yang terjadi disekeliling saya (3).
  13. Saya merasa malas jika harus melakukan pekerjaan yang belum pernah saya lakukan (3).
  14. Setiap selesai melaksanakan suatu kegiatan, saya selalu ingin melakukan kegiatan lain (3).
  15. Kata orang, saya termasuk orang yang penasaran karena selalu ingin tahu tentang sesuatu (3).
  16. Saya senang mengerjakan soal-soal yang mempunyai berbagai macam kemungkinan jawaban (4).
  17. Setiap masalah memungkinkan untuk diselesaikan dengan berbagai cara pemecahan (4).
  18. Saya bisa menerima pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat saya(4).
  19. Saya lebih suka pelajaran yang baru sama sekali daripada mempelajari yang sudah biasa (5).
  20. Ketika mengunjungi pameran, saya sering mengajukan pertanyan pada petugas (5).
  21. Walaupun melelahkan, saya merasa puas jika mendapatkan pengalaman baru (5).
  22. Saya akan memegang teguh pada keyakinan saya, apapun resikonya (6).
  23. Saya semakin bersemangat untuk menjelaskan ketika pendapat saya dikritik orang lain (6).
  24. Salah satu kebanggaan saya adalah ketika mampu mempertahankan pendirian (6).